Minggu, 26 Oktober 2008

Ujian dan Hikmah dari Allah

Semua umat-Nya pasti akan mendapatkan ujian untuk mengetahui sejauh mana keimanannya kepada Allah s.w.t. Seperti halnya ujian di sekolah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswanya. Ujian yang diberikan oleh Allah s.w.t bisa dalam bentuk anugerah atau musibah, kebahagiaan atau kesedihan, kemiskinan atau kekayaan, kepandaian atau kebodohan, kelebihan atau kekurangan, kebaikan atau keburukan, dll.

Allah s.w.t melihat keimanan seseorang bukan dari fisiknya tetapi dari keimanannya yaitu bagaimana dia menyikapi semua ujian yang diberikan oleh Allah s.w.t. Misalnya ada seseorang yang diuji dengan kekayaannya. Dia sangat kaya, semua kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi, apa yang diinginkan dapat dibeli, bahkan mungkin kekayaan yang didapatkan tidak akan habis tujuh turunan.

Allah s.w.t ingin mengetahui apakah dengan kekayaan yang telah diberikan-Nya, dia masih ingat kepada-Nya seperti tetap menjalankan perintah-Nya misalnya shalat lima waktu? Ketika adzan berkumandang apakah dia masih terlena dengan kekayaannya atau meninggalkannya sejenak untuk bersyukur dan menghadap-Nya? Apakah dia sudah menggunakan kekayaannya dengan benar di jalan-Nya?

Jika dia berhasil dalam ujian-Nya, insya Allah akan memberikan lebih dari yang telah dia dapatkan. Tetapi apabila dia terlalu terlena dengan dunianya sehingga melupakan-Nya, maka Allah akan mengambil kembali kekayaan.

Contoh yang lain, misalnya ada seseorang yang miskin. Dia tidak memiliki rumah. Hidup berpindah-pindah. Dalam sehari hanya makan satu kali. Tidak dapat melanjutkan pendidikan karena tidak mempunyai biaya. Dia mempunyai keinginan yang belum bisa dia didapatkan. Dia hanya bisa berangan-angan.

Dia menghadapi ujian dari-Nya yang berupa kemiskinan dengan sabar dan tetap berdoa kepada-Nya. Dia tetap mensyukuri apapun yang diberikan-Nya. Dengan keadaannya yang seperti itu dia masih ingat kepada-Nya dengan tetap menjalankan semua perintah-Nya. Dia tidak marah kepada Allah atas semua yang telah diberikan-Nya. Dia tetap menjalani kehidupannya dengan ikhlas.

Insyaallah dia telah berhasil melewati ujian-Nya. Pasti ada hikmah dibalik itu semua. Misalnya agar ketika dia kaya kelak dia tidak menjadi sombong. Apabila dia melihat ada orang miskin dia ingat keadaannya dulu kemudian dengan ikhlas dia mau membantu.

Yang Maha Mengetahui tidak akan memberikan sesuatu kepada umat-Nya tanpa maksud tertentu. Pasti ada hikmah dibalik semua ujiannya yang diberikan-Nya. Yakinlah bahwa Dia pasti akan memberikan yang terbaik untuk umat-Nya. Jalani kehidupan ini dengan sabar dan ikhlas apapun yang terjadi. Kehidupan di dunia hanyalah sementara yang digunakan untuk menabung amal ibadah yang akan digantikan dengan kehidupan yang bahagia di akhirat kelak.

Read More..

Takut kepada Allah

Takut adalah sesuatu yang membuat kita tidak berani melakukan suatu hal. Sebenarnya takut itu hanya satu yaitu takut kepada Allah karena Tuhan kita satu yaitu Allah. Jangan takut kepada selain Allah. Misalnya ketika hanya mempunyai uang sedikit, jangan takut tidak bisa makan. Jangan takut kepada hal-hal yang ghoib. Jangan takut kepada manusia yang lain. Jangan takut kehilangan seseorang, benda, atau hewan kesayangan.

Semua yang ada di dunia hanyalah titipan-Nya dan hanya Allah lah yang berkuasa. Allah dapat memberi dan mengambil apapun yang diciptakan-Nya. Memang susah untuk tidak takut kepada selain Allah tetapi kita harus terus berusaha untuk tidak takut pada apapun kecuali Dzat Maha Pencipta.

Read More..

Shalat Berjamaah

Tidak ada keringanan untuk meninggalkan shalat berjamaah kecuali ada uzur (yang dibenarkan dalam agama) karena shalat berjamaah hukumnya wajib. Di bawah ini ada beberapa al-Hadits yang memuat hal tersebut.

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, "Telah datang kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa
menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam agar diberi keringanan dan cukup salat di rumahnya.' Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, 'Apakah engkau mendengar suara azan (panggilan) salat?', ia menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, 'Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)'."
(HR Muslim).


Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, "Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua salat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan salat agar didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami salat, lalu aku bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak hadir dalam salat berjamaah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu." (Muttafaq 'alaih).


Dari Abu Darda Radhiallaahu anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun, kemudian di sana tidak dilaksanakan salat berjamaah, terkecuali syaitan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu senantiasa bersama jamaah (golongan yang banyak), karena sesungguhnya srigala hanya akan
memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya)."
(HR Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan lainnya, hadis hasan).


Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bersabda, "Barang siapa mendengar panggilan azan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada salat baginya, terkecuali karena uzur
(yang dibenarkan dalam agama)."
(HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan lainnya, hadis sahih).


Dari Ibnu Mas'ud Radhiallaahu anhu, ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah salat di masjid yang dikumandangkan azan di dalamnya." (HR Muslim).

Shalat berjamaah mempunyai keutamaan dan pahala yang besar dimana hal tersebut banyak disebutkan Al-Hadits berikut ini.


Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, "Shalat berjamaah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada salat sendirian." (Muttafaq 'alaih)


Dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhuma, ia berkata, "Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah (salah satu istri Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam), kemudian Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bangun untuk shalat malam, maka aku pun ikut bangun untuk salat bersamanya, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di samping kanannya." (Muttafaq 'alaih).


Dari Abu Sa'id al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiallaahu anhuma, keduanya berkata, "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, 'Barangsiapa bangun di waktu malam hari kemudian dia membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua salat berjamaah, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu berdzikir kepada Allah." (HR Abu Daud dan al-Hakim, hadis sahih).


Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiallaahu anhu, "Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid sedangkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam sudah salat bersama para sahabatnya, maka beliau pun bersabda, 'Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, dan menemaninya salat.' Lalu berdirilah salah seorang dari mereka kemudian dia salat bersamanya." (HR Abu Daud dan at-Tirmidzi, hadis sahih).


Dari Ubay bin Ka'ab Radhiallaahu anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, Salat seseorang bersama orang lain (berdua) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada salat sendirian, dan salat seseorang ditemani oleh dua orang lain (bertiga) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada salat dengan ditemani satu orang (berdua), dan semakin banyak (jumlah jamaah) semakin disukai oleh Allah Taala." (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasai, hadis hasan).

Hadits-hadits di atas mengutip darihttp://www.van.9f.com/


Read More..

Mencintai Allah

Cinta tidak hanya untuk manusia tetapi bisa juga untuk benda kesayangan, suatu tempat, hewan peliharaan, dan lain sebagainya. Tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta:

  • Selalu memikirkan yang dicintai entah pada waktu bangun tidur, makan, ketika sedang melakukan aktivitas, bahkan ketika akan tidur.
  • Lebih mementingkan yang dicintai dari pada kepentingan dirinya sendiri.
  • Rela berkorban apapun demi yang dicintai.
  • Hati akan merasa senang apabila memikirkannya.
  • Ingin selalu membahagiakan dan membuat senang yang dicintai.
  • Tetapi kebanyakan manusia sekarang cinta hanya untuk seseorang atau suatu benda, dan lain-lain. Mereka lupa akan cintanya kepada Allah s.w.t. Apakah mereka sudah bisa merasakan cinta kepada-Nya? Seberapa besar cintanya? Padahal Allah yang telah memberikan kehidupan, rejeki, kesenangan dan ujian untuk meningkatkan keimanan kepada-Nya.

    Mencintai Allah adalah suatu hal penting. Dengan mencintai Allah pasti kita akan melakukan apapun agar Allah pun akan mencintai kita. Kita akan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,
    melakukan sesuatu yang bisa membuat Allah senang. Rela mengorbankan kepentingan dunia untuk kepentingan Allah. Selalu memikirkan Allah kapanpun dan dimanapun kita berada sehingga apabila kita akan melakukan suatu hal yang tidak baik kita tidak jadi untuk melakukannya karena takut apabila Allah marah kepada kita.

    Misalnya ketika kita sedang bekerja kemudian mendengar adzan berkumandang maka kita meninggalkan kepentingan duniawi itu sebentar untuk langsung beribadah shalat menghadapnya sebagai tanda kita ingat kepada-Nya dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya.

    Apabila kita ingat kepada Allah maka Allah akan ingat kepada kita. Begitu juga apabila kita mencintai Allah maka Allah pun akan mencintai kita. Apabila kita mencintai seseorang atau seseatu, cintailah mereka karena kita mencintai Allah. Bukankah Allah memerintahkan kita untuk saling menyayangi dan menjaga. Bentuk cinta Allah dapat berupa kebahagiaan atau pun kesedihan. Dan semua itu adalah ujian dari-Nya.

    Alangkah indahnya bila semua umat manusia mencintai Allah dengan ikhlas. Hidup ini akan tentram dan bahagia.

    Read More..

    Memberi Salam

    Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita saling memberikan salam antara satu muslim dengan muslim yang lain. Tetapi pada jaman sekarang hal tersebut sudah banyak berkurang. Terkadang apabila pergi atau pulang dari atau ke rumah tidak memberi salam. Ketika bertemu dengan seseorang pun terkadang tidak memberi salam. Padahal banyak dalil dalam Al-Quran maupun Al-Hadits yang menganjurkan kita untuk saling memberi salam sesama muslim.

    "Dari Abi Umarah AlBarra bin "Azib r.a. beliau berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami dengan tujuh perkara ; menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, mendo'akan orang yang bersin, membantu yang lemah, menolong yng didzalimi orang, memberi salam, mengabulkan permintaan seseorang (yang memohon dengan memakai sumpah)." (Muttafaqun 'Alaih)

    Selain memberikan salam kepada orang yang dikenal kita juga dianjurkan untuk memberikan salam kepada orang yang belum dikenal. Dengan saling memberi salam dapat memperkuat tali persaudaraan antara sesama muslim. Bagi siapa saja yangselalu mengamalkan ibadah ini maka dijanjikan masuk surga.

    Dari Abdullah bin Salam r.a. ia berkata: saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Hal menusia sebarkanlah (ucapkanlah) salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali
    kekeluargaan (shilaturrahim ), Shalatlah sedang orang-orang (lagi lelap) tertidur, niscaya kamu akan masuk sorga dengan selamat."
    (HR.Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah - Shahih)

    Ada beberapa bagian dari artikel di atas mengutip dari http://www.van.9f.com/

    Read More..

    Kunci-Kunci Rizki

    Manusia di dunia ini disibukkan dengan aktivitas mencari rizki untuk dapat membiayai hidupnya. Ada yang mencari dengan cara yang halal tetapi banyak yang mencari dengan cara yang diharamkan seperti korupsi. Ataupun datang ke tempat-tempat yang diharamkan seperti dukun dan paranormal. Sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk bertawakal kepada Allah karena Allah sudah menentukan seberapa besar rizki yang akan didapatkan. Diwajibkan bagi kita untuk mencari rizki yang halal dengan cara yang halal dan baik pula tentu saja dengan usaha yang kita lakukan.

    Berikut ini adalah 10 kunci-kunci rizki yang dikabarkan kepada kita oleh Allah dan Rasul-Nya:
    1. Istighfar dan taubat
      Nabi Nuh u berkata kepada kaumnya : "Maka aku katakan kepada mereka, mohon ampunlah kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) sungai-sungai". (QS Nuh : 10-12).
    2. Taqwa
      Fiman Allah : "Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya". (QS. Ath-Thalaq : 2-3).
    3. Bertawakal (berserah diri) kepada Allah
      Rasulullah r bersabda : "Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi dengan perut lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang". (HSR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnul Mubarak, Ibnu Hibban, Al Hakim, Al Qudha’i dan Al Baghawi dari ‘Umar bin Khaththab t).
    4. Beribadah sepenuhnya kepada Allah semata
      Rasulullah r bersabda : "Sesungguhnya Allah berfirman : "Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. (Dan) jika kalian tidak melakukannya, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu". (HSR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dari Abu Hurairah t).
    5. Menjalankan haji dan umrah
      Rasulullah r bersabda : "Kerjakanlah haji dengan umrah atau sebaliknya. Karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran
      (karat) besi."
      (HSR Nasa’i. Hadits ini shahih menurut Imam Al Albani. Lihat Shahih Sunan Nasa’i).
    6. Silaturahmi (menyambung tali kekerabatan yang masih ada hubungan nasab)
      Rasulullah r bersabda : "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturrahim"(HSR. Bukhari).
    7. Berinfak di jalan Allah
      Allah berfirman : "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dialah sebaik-baiknya Pemberi rizki". (QS. Saba : 39).
    8. Memberi nafkah kepada orang yang menuntut ilmu
      Anas bin Malik t berkata : "Dulu ada dua orang bersaudara pada masa Rasulullah r. Salah seorang mendatangi (menuntut ilmu) pada Rasulullah r, sedangkan yang lainnya bekerja. Lalu saudaranya yang
      bekerja itu mengadu kepada Rasulullah r (lantaran ia memberi nafkah kepada saudaranya itu), maka Beliau r bersabda : "Mudah-Mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia".
      (HSR.Tirmidzi dan Al Hakim, Lihat Shahih Sunan Tirmidzi).
    9. Berbuat baik kepada orang-orang yang lemah
      Mush’ab bin Sa’d t berkata, bahwasanya Sa’d merasa dirinya memiliki kelebihan daripada orang lain. Maka Rasulullah r bersabda : "Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki
      lantaran orang-orang lemah diantara kalian?".
      (HSR. Bukhari).
    10. Hijrah di jalan Allah
      Allah berfirman : "Barangsiapa berhijrah dijalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak". (QS. An Nisa : 100).

    (Sumber: http://www.van.9f.com/)

    Read More..

    Khusyu' dalam Shalat

    Khusyu’ adalah sikap tenang, tentram, perlahan, penghormatan dan ketundukan serta sikap yang disertai perasaan takut kepada Allah dan perasaan selalu diawasi-Nya. Shalat khusyu’ tidaklah mudah karena iblis akan menggoda dan mengganggu manusia yang sedang shalat dari semua sisi depan, belakang, kanan, dan kiri misalnya dengan memberikan perasaan was-was.

    Balasan bagi orang yang shalatnya khusyu’ dijelaskan dalam surat Al Ahzab; 35, Allah s.w.t berfirman yang artinya: "Allah memasukkan orang yang khusyu, baik laki maupun perempuan ke dalam hamba-hamba-Nya yang terpilih dan memberikan informasi bahwa mereka dijanjikan akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar”.


    Ada beberapa kiat yang mendatangkan khusyu’ dalam shalat:

    1. Mempersiapkan diri untuk shalat
      Yang perlu dipersiapkan sebelum shalat diantaranya adalah: berdoa setelah adzan, berwudhu, membersihkan diri (gosok gigi), berhias dengan mengenakan baju yang bagus dan bersih serta menutup aurat.
    2. Mengingat mati dalam shalat
      Laksanakan shalat seolah-olah itu adalah shalatterakhir yang kita laksanakan karena kita tidak tahu kapan malaikat maut akan datang menjemput. Sabda Nabi Rasulullah s.a.w: "Ingatlah kematian dalam shalatmu, sesungguhnya orang yang mengingat kematian dalam shalatnya, niscaya ia akan berusaha untuk menyempurnakan shalatnya."
    3. Menghayati ayat dan zikir yang dibaca
      Mengerti arti bacaan shalat akan lebih membuat kita menghayati shalat itu sendiri.
    4. Menyadari bahwa Allah pasti mengabulkan doa dalam shalatnya
      Dalam bacaan shalat terkandung do'a. Contohnya dalam surat Al Fatihah: Ihdinasshiratal Mustaqim. Shiratalladzina an'amta ‚alaihim. Ghairil Maghdubi ‚alaihi waladdhallin Artinya : “Ya Allah ...tunjukkan
      kepadakau jalan yang lurus, yaitu jalan orangorang yang Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka bukan kepada jalan orang yang kau murkai/ jalan yang sesat”.

    5. Menghadap dan dekat dengan tabir/penghalang
      Maksudnya adalah agar lebih konsentrasi dalam shalat karena menghindari orang yang lalu lalang dan menjaga diri dari gangguan
      syetan. Sabda Rasulullah s.a.w: "Apabila salah seorang diantaramu shalat menghadap tabir niscaya syetan tidak dapat memutus shalatnya."
    6. Meletakkan tangan kanan di tas tangan kiri di atas dada
      Sikap seperti ini menunjukkan permintaan dengan penuh rendah hati dan ketundukkan.
    7. Memandang ke tempat sujud
      Rasulullah mencontohkan dalam shalatnya beliau senantiasa memandang ke tempat sujud saat melakukan shalat.
    8. Membaca beragam surat, ayat, dzikir dan doa dalam shalat
      Dengan membaca bacaan yang bervariasi akan menambah pengtahuan atau kandungan yang baru dari bacaan tersebut.
    9. Melakukan sujud tilawah apabila membaca ayat sajadah
      Gunanya agar dapat menambah kekhusyuan dan mengusir syetan. Sabda Nabi: "Bila anak Adam membaca ayat sajadah kemudian melakukan sujud tilawah, syetan akan lari terbirit-birit sambil menangis dan berkata, aduh, celaka diriku, anak Adam diperintahkan sujud dan dia sujud maka baginya syurga, sedang aku diperintahkan sujud tapi akau enggan, maka bagiku neraka."
    10. Berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk
      Sabda Nabi: "Sesungguhnya jika seseorang akan shalat, maka datanglah syetan untuk mengacaukan shalatnya dan membuatnya ragu sudah berapa rakaat yang dikerjakan."
    11. Mengetahui keistimewaan khusyu’ dalam shalat
      Salah satunya adalah dihapuskan dosanya selama 1 tahun selama dia tidak melakukan dosa besar.
    12. Bersungguh-sungguh dalam berdoa di tempat tertentu terutama dalam sujud
      Sabda Nabi: "Seseorang yang paling dekat kepada Allah ialah ketika dia dalam keadaan sujud. Maka perbanyaklah berdo'a dan bersungguh-sungguhlah dalam berdo'a niscaya permohonanmu akan dikabulkan".
    13. Memperbanyak dzikir setelah shalat
      Misalnya istighfar tiga kali untuk meminta ampun atas kekurangan yang dilakukan selama sholat.


    Berikut ini adalah berbagai cara yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kendala yang dapat mengganggu kekhusyuan shalat:

    1. Menghilangkan sesuatu yang dapat mengganggu orang shalat. Ketika Aisyah akan memasang tirai bergambar, Rasul melarang karena
      gambarnya dapat mengganggu dalam mengerjakan shalat.
    2. Tidak shalat dengan memakai pakaian yang ada hiasan, tulisan, gambar, warna warni yang mengganggu orang lain.
    3. Jangan shalat sementara hidangan telah tersedia Kita tidak akan shalat dengan khusyu karena hati kita akan teringat pada makanan itu.
    4. Jangan mengerjakan shalat sambil menahan kencing atau buang air besar. Sabda Nabi : "Tidak boleh shalat sedangkan makanan telah tersedia di hadapannya dan tidak boleh juga shalat padahal ia menahan kencing atau buang air besar."
    5. Jangan shalat dalam keadaan ngantuk. Sabda Nabi: "Bila salah seorang diantara kalian mengantuk, tidurlah sampai hilang kantuknya baru shalat."
    6. Tidak shalat dibelakang orang yang sedang bicara atau tidur. Hal ini jelas dapat mengganggu konsentrasi, apalagi jika obrolan dilakukan dengan suara keras.
    7. Tidak menyibukkan diri dengan meratakan kotoran (pasir, tanah, batu) pada tempat sujud Hendaklah hal ini dilakukan sebelum sholat, bukan pada waktu sholat.

    (Sumber: http://www.van.9f.com/)

    Read More..

    Keutamaan Membaca Al-Quran

    Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur`an bagaikan buah limau baunya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur`an bagaikan buah raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit." Muttafaqun `Alaihi.

    Beberapa keutamaan membaca Al Qur`an sebagai berikut :
    1. Manusia yang terbaik
      Dari `Utsman bin `Affan, dari Nabi bersabda : "Sebaik-baik kalian yaitu orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya." H.R. Bukhari.
    2. Dikumpulkan bersama para Malaikat
      Dari `Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda : "Orang yang membaca Al Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran." Muttafaqun `Alaihi.
    3. Sebagai syafa`at di Hari Kiamat
      Dari Abu Umamah Al Bahili t berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : "Bacalah Al-Qur`an, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi ahlinya (yaitu orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya)." H.R. Muslim.
    4. Kenikmatan tiada tara
      Dari Ibnu `Umar t, dari Nabi bersabda : "Tidak boleh seorang menginginkan apa yang dimiliki orang lain kecuali dalam dua hal; (Pertama) seorang yang diberi oleh Allah kepandaian tentang Al Qur`an
      maka dia mengimplementasikan (melaksanakan)nya sepanjang hari dan malam. Dan seorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta maka dia infakkan sepanjang hari dan malam."
      Muttafaqun `Alaihi.
    5. Ladang pahala
      Dari Abdullah bin Mas`ud t berkata, Rasulullah e : "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan "Alif lam mim" itu satu huruf, tetapi "Alif" itu satu huruf, "Lam" itu satu huruf dan "Mim" itu satu huruf." H.R. At Tirmidzi dan berkata : "Hadits hasan shahih".
    6. Kedua orang tuanya mendapatkan mahkota surga
      Dari Muadz bin Anas t, bahwa Rasulullah e bersabda : "Barangsiapa yang membaca Al Qur`an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, Allah akan mengenakan mahkota kepada kedua orang tuanya pada Hari Kiamat kelak. (Dimana) cahayanya lebih terang dari pada cahaya matahari di dunia. Maka kamu tidak akan menduga bahwa ganjaran itu disebabkan dengan amalan yang seperti ini." H.R. Abu Daud.


    Untuk membaca buku atau komik kita dapat menghabiskan waktu hingga berjam-jam. Tetapi hanya menyediakan waktu beberapa menit untuk membaca Al-Qur’an. Bukankah Al-Qur’an itu adalah petunjuk untuk umat manusia? Petunjuk adalah arah untuk suatu tujuan. Kita harus mempelajari petunjuk-Nya agar menjalani hidup tetap lurus di jalan-Nya. Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca tetapi juga harus dipahami dan diamalkan.


    (Beberapa bagian artikel ini mengutip dari http://www.van.9f.com/)

    Read More..

    Ikhlas

    Kalau menjalani kehidupan dengan ikhlas, hidup akan menjadi lebih tenang, tidak ada rasa takut, khawatir, ataupun was-was. Tentu saja ikhlas karena Allah. Kita yakin bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk umat-Nya.

    Ada sebuah cerita pengalaman hidup seseorang. Dia hidup berkecukupan bersama keluarganya. Setelah lulus SMA dia tidak melanjutkan ke pendidikan perguruan tinggi karena faktor ekonomi yang kurang mendukung. Pada awalnya dia tidak bisa menerima keadaan yang menjadi ujian dari-Nya. Sampai-sampai dia lalai menunaikan ibadah shalatnya. Dia marah kepada orang tuanya.


    Alhamdulillah Allah membukakan pintu hatinya lama kelamaan dia sadar bahwa itu semua adalah ujian dari-Nya untuk mengetahui sejauh mana tingkat keimanannya. Dia mulai bisa menerima keadaannya meskipun ujian masih tetap berjalan. Akhirnya Allah meridloinya untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Ujian tetap berlanjut. Dia kul di bidang illmu komputer tetapi dia belum mempunyai komputer. Apabila ada tugas dia mengerjakan di tempat temannya.


    Dia ikhlas menjalani itu semua. Dia mulai mengerjakan ibadah wajibnya bahkan dia puasa sunah. Dengan keikhlasan dan kesabaran akhirnya dia mendapatkan apa yang menjadi keinginannya selama ini yaitu sebuah komputer. Sekarang dia sudah dapat mengerjakan tugasnya sendiri tetapi dia berusaha untuk tetap menjaga tali silaturahmi dengan teman-temannya.


    Ada hikmahnya dia tidak mempunyai komputer pada waktu itu. Karena dia adalah orang yang kurang bisa bergaul dan senang melakukan pekerjaan atau tugas sendiri maka mau tidak mau dia harus mengerjakan tugas bersama temannya yang menuntut suatu hubungan pertemanan dan komunikasi. Sekarang dia mempunyai sahabat.


    Berpikirlah positif terhadap apapun yang terjadi. Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk umat-Nya karena Allah Maha Tahu. Ikhlaslah dan sabarlah dalam menhadapi ujian-ujian yang datang. Ujian ada untuk mengetahui kadar keimanan seseorang.


    Read More..

    Berbakti kepada Orang Tua

    Berbuat baik kepada orang tua sudah merupakan suatu kewajiban. Dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits banyak disebutkan perintah-perintah untuk menghormati, menyayangi, berbuat baik kepada orang tua dengan sebaik-baiknya.

    Ibu telah mengandung selama kurang lebih sembilan bulan, kemudian melahirkan dan menyusui. Bapak membanting tulang untuk menghidupi isteri dan anaknya. Mereka berdua membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Mereka rela berkorban apapun demi anak mereka. Orang tua manapun pasti ingin memberikan yang terbaik dalam segala hal seperti pendidikan, lingkungan, pertumbuhan dan lain-lain untuk anak mereka.


    Orang tua telah mengajarkan banyak hal semenjak kita bayi bahkan sampai dewasa. Ketika anak sedang sakit, orang tua menjaga dengan penuh perhatian. Ketika anak dalam masalah, orang tua pasti akan membantu untuk menyelesaikan masalah. Ketika anak meminta sesuatu, orang tua akan berusaha keras untuk memenuhinya.


    Tetapi ketika anak sedang bersenang-senang dengan temannya dan ditanyai orang tua mau pergi kemana, mengapa mereka menjawab dengan sinis seolah kepergiannya tidak ingin diketahui? Ketika anak diperintah untuk melakukan sesuatu oleh orang tuanya mengapa mereka menolak dengan kata-kata yang kasar? Padahal orang tua telah merawat dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika anak sudah menikah, mengapa mereka melupakan orang tuanya dengan hidup bahagia bersama keluarganya? Dimanakah seorang anak ketika dibutuhkan oleh orang tuanya?


    Kasih sayang orang tua tidak akan pernah hilang. Ketika mereka mendapatkan kebahagian pasti mereka juga akan berbagi dengan anak mereka. Tetapi ketika anak mendapatkan sesuatu, apakah dia masih ingat dengan orang tuanya? Renungkanlah. Jangan sampai kita menyesal atau terlambat berbuat baik kepada orang tua. Selagi kita masih bisa berbuat baik kepada mereka berdua, buatlah mereka selalu bahagia. Jika orang tua bahagia pasti anak juga akan merasa bahagia.


    Coba ingat-ingat kembali apa yang sudah dilakukan orang tua sejak kita dalam kandungan hingga kita dewasa. Apa yang akan kita lakukan untuk membahagiakan mereka belum tentu dapat membalas semua yang telah dilakukan mereka. Ada pepatah yang mengatakan bahwa anak memberikan emas segunung belum bisa membalas semua yang telah dilakukan orang tua.
    Read More..